Memahami Agama Tidak Cukup Dengan Bahasa Semata – Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat

“Bahayanya Memahami Agama Hanya Dengan Bahasa Semata Saja”

Karena Rabbuna azza wa jalla mengatakan dan memerintahkan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“…Agar engkau menjelaskan kepada manusia…”

Dan penjelasan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah berupa

Qaul…

Fi’il…

Taqrir…

Dan yang menukil semua penjelasan dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut adalah para Shahabat radhiyallahu anhum.

Dan hal ini tidak berarti bahwa kita tidak membutuhkan bahasa arab, Tidak!.

Oleh karena itu kami meyakini dengan pasti bahwa sesungguhnya bagi orang-orang Ajam (bukan bangsa Arab) yang tidak MUTQIN (yakni bukan orang yang hanya sekedar bisa atau tahu saja tentang bahasa arab tetapi harus pengetahuan yang kokoh) dalam bahasa arab kemudian dia memahami al kitab dan sunnah maka dia akan mendapatkan kesalahan yang banyak sekali.

Oleh karena mempelajari bahasa arab itu harus benar benar mutqin dan tidak sekedarnya saja, oleh karena itu perkara mempelajari bahasa ini adalah bagiannya para pelajar ilmiyyah bukan semata mata kepada umumnya orang , dimana umumnya mereka tidak bisa untuk dibawa kepada perkara mutqin ini dan memang ini bukan bagian mereka yang berarti sama saja merendahkan ilmu itu sendiri, karena bagi umumnya mereka ada yang lebih penting untuk diajarkan kepada mereka, yaitu MANHAJ dan AQIDAH SHAHIHAH, sehingga waktu tidak terbuang sia-sia bagi mereka.

Dan bagi para pelajar ilmiyyah maka bagian mereka inilah untuk mempelajari dan memperdalam bahasa ini, karena dalam perkara ini harus benar-benar mutqin.

Perlu juga diketahui bawa lafazh-lafazh yang terdapat dalam Al Qur’an dan Sunnah terdiri dari 3 macam :

Pertama : Lafazh-lafazh tersebut telah dijelaskan artinya oleh Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti misalnya lafazh Islam, iman, shalat, shaum, zakat, haji dan lain lain.

Maka ketika lafazh-lafazh ini telah dijelaskan artinya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka tidak boleh kita mengartikanya dengan bahasa semata sebagaimana perbuatan orang orang zindiq yang mengartikan dan menafsirkan Islam hanya dengan bahasa semata.

Kedua: Lafazh-lafazh dalam Al Qur’an dan Sunnah yang tidak dijelaskan artinya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti: qamarun, syamsun dan lain lain.

Maka artinya dikembalikan secara bahasa.

Ketiga: Lafazh-lafazh dalam Al Qur’an dan Sunnah yang tidak dijelaskan artinya oleh Rasulullah dan tidak juga diterangkan maknanya secara bahasa.

Maka artinya dikembalikan kepada urf, seperti lafazh safar.

Kemudian inti dari seseorang itu kokoh dalam bahasa arab ialah, intinya meliputi 3 hal berikut :

1. Bisa membaca dengan baik,

2. Bisa menterjemahkan,

3. Dan yang tertinggi ialah faham.

Itulah kurang lebihnya diantara uraian yang dijelaskan oleh al ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat hafizhahullahu ta’ala dalam materi pembahasan kitab Da’watuna nya Syaikh Nashir rahmatullahi ‘alahi.

Selamat menyimak, semoga bermanfaat!

Termaktub akun FB Eko Abu Dihyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *